Oleh : Nugroho Tri Putra*

Menjadi Kepala Daerah bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus diperjuangkan untuk membangun Kota Bengkulu agar penuh dengan dukungan. Walikota Bengkulu Helmi Hasan dan Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi yang dilantik 24 September 2018 oleh Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah terus menuai pro dan kontra dalam menjalankan programnya selama tahun pertama.

Tulisan ini tidak ditujukan untuk membentuk opini pembaca akan hal citra. Tetapi upaya menyampaikan kebaikan yang telah dilakukan pemerintah. Bukan untuk riya, tapi agar kebaikan kebaikan ini banyak yang tahu dan pada akhirnya ditiru.

Adalah program fenomenal Harapan dan Doa (HD) Oto. HD Oto adalah Program pro rakyat dimana Pemkot Bengkulu menyiapkan ambulance gratis bagi warganya yang membutuhkan, melalui aplikasi HD City. Tak hanya kebermanfaatan itu, melalui HD Oto ini pula, mobil dinas BD 1 A dan BD 2 A dapat digunakan warga untuk pernikahan, baik untuk lamaran, maupun resepsi. Demi warganya, Walikota Bengkulu Helmi Hasan dan Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi rela menggunakan mobil lain pada Sabtu dan Minggu.

“Semua gratis, mulai dari BBMnya, supirnya juga tak perlu sewa,” kata Helmi Hasan Desember 2018 lalu saat pertama program ini dilaunching.

Program ini adalah pertama dan satu-satunya di Indonesia. Bahkan, Viral! Mengantar orang sakit menggunakan mobil dinas BD 1 A, menjemput pujaan hati juga menggunakan mobil dinas BD 1 A dan BD 2 A adalah sesuatu yang luar biasa.

Karena itu, banyak yang ingin meniru program yang digagas Helmi Hasan ini. Bandung Barat dan Kepala Daerah di Provinsi Bengkulu pun mulai meniru program ini. Mendengar hal itu, Helmi – Dedy pun bersyukur. “Alhamdulillah, kebaikan yang kami lakukan ditiru oleh orang lain. Ini berkah bagi kita semua,” kata Helmi didampingi Dedy belum lama ini.

Di sisi lain, Program Bengkulu Religius melalui gerakan memakmurkan rumah ibadah adalah gerakan yang luar biasa. Tidak hanya tokoh agama Islam yang mendukung, tetapi semua agama. Melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), program ini sangat didukung karena dinilai upaya menggerakkan hati umat beragama untuk konsisten melaksanakan ibadah. Untuk agama Islam, masjid diimbau buka 24 jam dan menyiapkan teh, kopi, buah – buahan dan makanan.

Romantika di Masjid Agung At Taqwa

Selain buka 24 jam, Helmi – Dedy punya cara lain untuk mendekatkan pemerintahan dengan warganya. Di Masjid Agung At Taqwa, Kelurahan Anggut Atas, Helmi – Dedy telah melakukan 7 (tujuh) kali makan akbar 1000 nampan, salah satunya digelar sebelum pelaksanaan Salat Istisqa bersama warga, Senin (23/9/2019) lalu. Menariknya, jamaah yang datang disajikan langsung nasi dan gulainya di atas nampan, bagaikan seorang istri yang melayani suaminya, di makan akbar ini yang menyajikannya langsung Walikota Helmi, Wawali Dedy Wahyudi, Sekretaris Daerah Marjon dan para Kepala Organisasi Perangkat Daerah. Sangat jarang terjadi pejabat yang menghidangkan makanan untuk jamaahnya.

Helmi berpandangan, keromantisan antara pemerintah dengan warganya hanya bisa terjadi dengan seringnya bertemu pemerintah dengan warganya. Salah satunya dengan kegiatan makan akbar yang rutin diselenggarakan di Masjid Agung At Taqwa. Betapa bahagianya melihat anak-anak panti asuhan bisa makan bersama pejabat-pejabat, warga-warga yang juga bisa bertegur sapa dengan pejabat seusai salat, dan komunikasi yang terjalin semakin dekat.

Infrastruktur Jalan untuk Kebaikan

Tahun pertama menjabat, hal yang juga menjadi perhatian masyarakat adalah pembangunan infrastruktur jalan. Contohnya pelebaran jalan Kapuas hingga Asahan, tidak perlu koar-koar ke masyarakat, jalan di kawasan ini dilebarkan, diaspal, mulus. Pengguna jalan merasakan langsung manfaatnya. Begitu juga dengan akses jalan ke gang-gang, secara bertahap dilakukan pengaspalan. Tidak hanya itu, masih banyak program infrastruktur lainnya yang pengerjaannya juga telah selesai seperti pembangunan drainase, pembangunan taman kota, dan pengerjaan alun-alun kota.

Inovasi Layanan Adminduk dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan

Dalam hal layanan administrasi kependudukan (adminduk), Pemkot Bengkulu mencoba berinovasi, salah satunya melalui mobil Dukcapil Keliling (Dukling). Mobil ini untuk memutus jalur birokrasi yang dirasa lambat jika warga untuk mengurus KTP-elektronik harus menunggu lama di Kantor Dukcapil Kota Bengkulu. Melalui mobil ini, nanti petugas akan mendatangi perumahan warga, sekolah-sekolah untuk melakukan perekaman khususnya pada warga yang berusia 17 tahun untuk segera diterbitkan KTP-elektroniknya. Tak hanya KTP-elektronik, mobil ini juga melayani pembuatan, Kartu Keluarga, Kartu Identitas Anak (KIA), dan juga Akta Kematian. Inovasi luar biasa!

Dalam pengembangan ekonomi kerakyatan, selain program Satu Miliar Satu Kelurahan (Samisake), Helmi – Dedy juga optimis bahwa Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Fadhilah milik Pemkot Bengkulu akan segera beroperasi, apalagi SDM karyawan BPRS tersebut telah direkrut, bahkan dari orang-orang yang memiliki pengalaman di bidang Perbankan. Dengan hadirnya BPRS ini nantinya, warga selaku nasabah dan juga pelaku usaha memiliki alternatif untuk mengembangkan perekonomiannya melalui pembiayaan yang bersifat syariah.

ASN di Birokrasi Sesuai Kompetensi

Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah alat atau mesin untuk mewujudkan visi dan misi pemerintahan, satu tahun kepemimpinan Helmi – Dedy, mereka berkomitmen agar penempatan ASN di birokrasi yang mereka pimpin sesuai kompetensi. Wakil Walikota Dedy Wahyudi dibeberapa kesempatan berulang kali mengucapkan agar ASN di Pemkot Bengkulu berinovasi. Bersama Walikota Helmi, ia ingin ASN di pemerintahannya memiliki kompetensi yang baik agar roda pemerintahan berjalan sesuai visi misi mereka, sehingga membawa kota ini semakin bermartabat dan memberikan efek kepada masyarakat.

“Kami akan tempatkan ASN secara obyektif dan subyektif. Kami butuh ASN yang loyalitas, memiliki kontribusi besar, disiplin, berintegritas, bukan hanya laporan yang bersifat ABS, atau Asal Bapak Senang,” tegas Dedy belum lama ini.

Kontradiksi Tiada Henti

Tak semua yang dilakukan dalam satu tahun kepemimpinan Helmi – Dedy mendapat respon positif dari warga, beberapa program tersebut menuai kontradiksi, khususnya di media sosial. Sebut saja makan akbar nasi kebuli, saat makan akbar nasi kebuli itu digelar netizen banyak berkomentar bahwa makan nasi kebuli bukan tradisi bengkulu. Karena itu, niat baik Helmi – Dedy dicederai oleh segelintir netizen yang tak suka. Ironis! Begitu juga dengan mobil dinas yang diperuntukkan bagi warga nikahan, netizen beranggapan bahwa hal tersebut hanyalah pencitraan. Lagi-lagi niat baik pemerintah disalahartikan.

Pun demikian, “makian” netizen di media sosial itu tidaklah menyurutkan Helmi – Dedy untuk memberikan yang terbaik dalam membangun Kota Bengkulu. Memang, terhadap suatu program dan kebijakan, tidak semua pihak dapat berpihak, tidak semua pihak dapat senang dan disenangkan. Helmi – Dedy pun tetap berpegang teguh pada pendirian mereka untuk tetap membangun Kota Bengkulu dalam berbagai sektor dengan penuh restu dan ridho Allah SWT. (**)

*Penulis adalah Aparatur Sipil Negara.

Menyelesaikan S2 Ilmu Komunikasi tahun 2015 di Universitas Andalas Padang melalui Beasiswa Kementerian Kominfo RI.