Jakarta, Kirananews – Hari ini, 16 April 2019 tepat 67 tahun lalu, telah lahir kesatuan pasukan khusus yang mumpuni dan menjadi kebanggaan seluruh bangsa Indonesia karena kiprahnya. Sejarah kelahiran Komando Pasukan Khusus sebagai satuan tidak terlepas dari rangkaian bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia, pada bulan Juli 1950, timbul pemberontakan di Maluku oleh kelompok yang menamakan dirinya RMS (Republik Maluku Selatan). Pimpinan Angkatan Perang RI saat itu segera mengerahkan pasukan untuk menumpas gerombolan tersebut. Operasi ini dipimpin langsung oleh Panglima Tentara Teritorium III Kolonel A.E. Kawilarang, sedangkan sebagai Komandan Operasinya ditunjuk Letkol Slamet Riyadi.

Operasi ini memang berhasil menumpas gerakan pemberontakan, namun dengan korban yang tidak sedikit dipihak TNI. Setelah dikaji ternyata dalam beberapa pertempuran, musuh dengan kekuatan yang  relatif lebih kecil sering kali mampu menggagalkan serangan TNI yang kekuatannya jauh lebih besar. Hal ini ternyata bukan hanya  disebabkan semangat anggota pasukan musuh yang lebih tinggi atau perlengkapan yang lebih lengkap, namun juga taktik dan pengalaman tempur yang baik didukung kemampuan tembak tepat dan gerakan perorangan. Gerakan tipikal dari satu kesatuan setingkat komando.

Peristiwa inilah yang akhirnya mengilhami Letkol Slamet Riyadi untuk mempelopori pembentukan satuan pemukul yang dapat digerakkan secara cepat dan tepat, untuk menghadapi berbagai sasaran di medan yang bagaimanapun beratnya. Namun cita-cita Letkol Slamet Riyadi tidak dapat diwujudkannya karena beliau gugur pada salah satu pertempuran. Cita-cita luhur ini kemudian dilanjutkan oleh Kolonel A.E Kawilarang. sebagai Panglima Komando Territorium III.

Kolonel Kawilarang mendapatkan informasi, ada mantan anggota Korps Special Troepen (KST) yang sudah menjadi warga negara Indonesia dan saat itu menjadi petani bunga. Melalui Instruksi Panglima Tentara dan Teritorial III No. 55/Inst/PDS/52 tanggal 16 April 1952 terbentuklah KESATUAN KOMANDO TERITORIUM III (Kesko TT III) yang merupakan cikal bakal “Korps Baret Merah”. Sebagai Komandan pertama dipercayakan kepada Mayor Mochammad Idjon Djanbi, mantan Kapten KNIL yang pernah bergabung dengan Korps Special Troopen dan pernah bertempur dalam Perang Dunia II.

Satu hal unik terjadi antara Slamet Rijadi dan Idjon Djanbi, bahwa sejatinya dua orang ini belum pernah jumpa, terkait gagasan mewujudkan terbentuknya satuan komando. Keduanya “dipertemukan” melalui prakarsa AE Kawilarang, dan satu tokoh lagi yang juga sedikit misterius, yakni Aloysius Sugijanto, mantan ajudan Slamet Rijadi. AE Kawilarang memerintahkan Sugijanto untuk menemui Idjon Djanbi, agar bersedia membantu pembentukan satuan komando. Kawilarang sendiri bahu-membahu bersama Slamet Rijadi  dalam operasi di Ambon (1950), hingga keduanya sepakat akan membentuk pasukan komando, usai operasi nanti.

Keterlibatannya dalam pembentukan pasukan komando di bawah TT Siliwangi (Tentara dan Teritorium, setingkat Kodam), merupakan cerita tersendiri. Bagaimana Idjon Djanbi yang sudah hidup tenang sebagai petani bunga di kawasan Lembang (Bandung), bersedia kembali mengenakan seragam tentara, untuk melatih generasi pertama pasukan Komando. Idjon Djanbi sebelumnya dikenal sebagai perwira pasukan khusus Belanda (Korps Speciale Troepen, KST), yang minta pensiun dini karena konflik dengan koleganya sesama anggota KST, Kapten Raymond Westerling.

Dalam perjalanan selanjutnya satuan ini beberapa kali mengalami perubahan nama diantaranya Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD) pada tahun 1953, Resimen Pasukan  Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada tahun 1952, selanjutnya pada tahun 1955 berubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dengan menambah kualifikasi Para kepada setiap prajuritnya. Pada tahun 1966 satuan ini kembali berganti nama menjadi Pusat Pasukan Khusus TNI AD (PUSPASSUS TNI AD), berikutnya pada tahun 1971 nama satuan ini berganti menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (KOPASSANDHA). Pada Tahun 1985 satuan ini berganti nama menjadi Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS) sampai sekarang.

Setelah beberapa kali mengalami perubahan dalam organisasi, sesuai Surat Panglima TNI Nomor : B/563-08/05/06/SRU tanggal 23 Maret 2001, maka struktur organisasi Kopassus saat ini terdiri dari :

–    Makopassus, berkedudukan di Cijantung. Sesanti Pataka  Kopassus adalah “ TRIBUANA CHANDRACA SATYA DHARMA”.

–    Pusdiklatpassus, berkedudukan di Batujajar dengan sesanti Sempana “ TRI YUDHA SAKTI ”.

–    Grup-1 Kopassus,   berkedudukan  di Serang dengan sesanti Dhuaja “ EKA WASTU BALADIKA ”.

–    Grup-2 Kopassus, berkedudukan di Solo dengan sesanti Dhuaja “ DWI DHARMA BIRAWA YUDHA”.

–    Grup-3 Kopassus, berkedudukan di Cijantung dengan sesanti Dhuaja “ CATUR  KOTTAMAN  WIRA  NARACA  BYUHA ”.

–    Satuan-81 Kopassus, berkedudukan di Cijantung dengan sesanti Dhuaja “ SIAP SETIA BERANI“.

Dalam strukturnya yang unik, Kopassus selalu beroperasi dalam satuan kecil dengan mengandalkan serangan cepat dan mematikan. Pasukan elit ini biasanya melakukan tugas penyusupan, pengintaian, penyerbuan, anti terorisme dan berbagai jenis perang non konvensional lain. Untuk itu setiap prajurit Kopassus dibekali kemampuan tempur yang tinggi. Semua itu didapatkan selama 7 bulan pendidikan ‘neraka’ kawah Chandradimuka di Situ Lembang, Batujajar, Bandung. Saking beratnya pendidikan yang diterima, seorang anggota Kopassus berkata,”Dibayar satu miliarpun, saya tidak akan mau lagi ikut pendidikan komando Kopassus.”

Lambang dan Pataka Kopassus

Lambang atau gambar yang terdapat pada Pataka Kopassus sama dengan emblem yang dikenakan setiap anggota di baretnya. Mula-mula emblem dirancang oleh Letda Inf Dodo Sukanto tahun 1955 selaku perwira Biro Pengajaran yang dibantu oleh juru gambarnya Sersan Hasan. Lambang memadukan unsur Komando (gambar pisau komando), unsur laut atau air (digambarkan dalam bentuk jangkar) dan udara (digambarkan sepasang sayap) yang dibingkai oleh tali komando.

Pada tahun 1964, lambang tersebut dirampingkan dengan menempatkan gambar pisau komando dibagian depan, tetapi gambar dan tandanya pada prinsipnya tidak berubah. Lambang itulah yang dipergunakan sampai sekarang seperti terlihat di emblem baret maupun di Pataka Kopassus.

Arti dari sesanti Tribuana Chandraca Satya Dharma:

TRIBUANA atau Tiga Jagad:

1)         Sebagai manusia hamba Tuhan yang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna maka dalam pribadinya terdiri dari tiga unsur yaitu cipta, rasa dan karsa yang harus diaktualisasikan sebagai karya nyata.
2)         Sebagai prajurit harus mampu berkiprah di tiga matra yaitu darat, laut dan udara.

CHANDRACA:

1)         Sebagai senjata ampuh berbentuk tombak bermata tiga dan hanya digunakan pada saat terakhir dalam pertempuran.
2)         Senjata ampuh yang berbentuk kecil menggambarkan bahwa Pasukan Khusus meletakkan kemampuan di atas jumlah dan digunakan untuk tugas-tugas yang bernilai strategis.

SATYA DHARMA: Kesetiaan dan dedikasi sebagai sifat yang tidak terpisahkan dari sifat luhur prajurit yang dijiwai Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

Sesanti tersebut diejawantahkan sesuai dengan motto kesatuan khusus ini, yaitu: ‘Lebih Baik Pulang Nama Daripada Gagal Di Medan Tugas”. Dirgahayu Kopassus. Komando..!! (IP/Noor Y)

Sumber : InfoPublik.id