Senja berlalu menjemput malam, meninggalkan temaram menuju pekatnya sang langit, tak salah bulan menerangi kelam karna mentari bersinar di lain sisi. Kulangkahkan kaki seiring lantunan lagu malam, kadang hening menjadi jeda antara bait demi bait lirik sunyi. Dalam peraduan malam aku masih menapaki sepi.

Masih seperti malam-malam biasanya masih di jalan yang sama yang biasa kulewati, ada sesuatu yang janggal. Atau mungkin perasaanku saja. Ah, tidak memang ada yang janggal seperti ada sesuatu di belakang ku. Kuberanikan untuk memalingkan pandanganku ke belakang, kiri dan kanan, kuperhatikan sekitar. Pemandangan yang biasa saja, hanya kendaraan yang simpang siur melewati jalan sempit sekitar pemukiman yang padat penduduknya sepadat permasalahan-permasalahan yang datang silih berganti di kehidupan mereka.

Perasaan yang kurasakan sejak kejadian di masa lalu. Kembali kususuri jalan ini hingga sampailah pada sebuah tempat terindah di dunia melebihi indahnya Taj Mahal yang dibangun seorang raja India untuk permaisuri yang sangat dicintainya. Sebuah bangunan yang dibangun ayahku untuk ibuku, untuk membesarkan kami anak anaknya dengan kasih sayang yang tiada tara, bangunan sederhana yang bagiku begitu megah karna ada mereka orang-orang yang ku kasihi didalamnya.

Pagi ini tak begitu terang, mentari seolah enggan untuk menggeliat. Sekelompok awan dengan sendu menampakkan wajah kesedihan, hanya menunggu sang angin menyapa, seketika bulir-bulir bening tercurah tumpah di atas tanah kering penuh debu beterbangan. Seolah alam paham dengan apa yang sedang kurasakan. Semua masih terlihat jelas dalam ingatan hingga untuk melupakan pun aku enggan.

Masih dalam bayangan yang sama, tak henti rasanya memikirkan. Apakah benar yang kurasakan? Ah…mungkin tidak, ini hanya bayangan kekhawatiran ku saja. Namun, jika benar adanya? Sanggupkah ku tinggalkan semua ini? Semua yang telah membuatku mampu berdiri dan bernafas hingga saat ini. Dan harus kutuju sesuatu yang semuanya teramat baru bagiku namun awal bagi hidupku dulu.

Ku telusuri sebuah jalan kecil dan sempit yang dikiri kanannya dipenuhi  oleh rumah yang dibangun seadanya, hanya sekedar untuk tempat mereka berteduh dari jahatnya dingin malam dan angkuhnya panas siang, dan ketika hujan tiba mereka harus rela bergelimang dengan genangan – genangan yang terkurung di antara mereka. Entah berapa jumlah kepala yang ada di dalamnya. Canda khas mereka yang setiap harinya mengais rezeki melalui kardus-kardus dan botol-botol pelastik bekas seolah-olah membuat mereka lupa akan beratnya hidup yang sedang dilaluinya. Tawa lepas membuat mereka lupa jika mereka harus berjalan setiap harinya dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga tawa itu terhenti dan sepasang mata menatap erat ke arah ku seiring dengan kuhentikan langkah kaki ku yang mulai gontai.

Asa kecilku…sapaan itu selalu membuat darah ku berdesir kencang. Ya, Asa. Begitu dia memanggilku. Meskipun dulu telah kuperkenalkan namaku nafisa, nama yang diberikan oleh ayah ibu ku dia tetap memanggilku Asa kecilku. Tak pernah ku menolak dipanggilnya dengan nama itu, selalu kuberikan senyuman terindah ku kepadanya.

Seperti biasa, teh hangat dalam cangkir yang sudah tak ada tangkainya. Mungkin cangkir ini di temukannya ketika ia sedang mencari barang yang akan dijadikannya rupiah, bekas namun bisa membawa manfaat baginya menyajikan secangkir teh penghangat tubuhnya yang mulai lanjut dimakan usia. Sepiring ubi rebus lengkap dengan gula merah cair dalam wadah plastik merah jambu. “mari nak, alhamdulillah tadi sewaktu di jalan pulang bapak masih bisa ambil dari sisa orang jualan di pasar, ya kalau udah bawa ubi begini ibu pasti selalu rebus, karna asa hari ini datang kita makan ubinya pakai gula merah, biar enak, biar Asa suka ya,”.

Ada beban yang menggantung di mata ku yang sulit untuk ku bendung ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya. Selalu bersyukur dengan apa yang didapatnya, ketika orang lain menganggap sampah namun baginya adalah sesuatu yang sangat berharga sebagai nutrisi baginya untuk melanjutkan perjuangan hidup. Aku tak ingin ia melihatku menumpahkan semua yang telah membendung di sudut mataku, dia yang menjalani masih sanggup untuk tertawa sementara aku yang melihat selalu tak kuasa menahan kesedihan. Segera ku minta izin dan berjanji jika ada waktu akan kembali menemui mereka di sini. Di rumah yang sangat sederhana.

Perasaan ini kembali menghantuiku. Ketika kutatap dalam wajahku dalam cermin, keyakinan itu semakin kuat. Ya, keyakinanku akan dirinya. Kalimat itu selalu meluncur di telingaku ketika kumenatap semakin dalam kedalam cermin. “Bayi perempuan itu membawa tanda lahir di lengan kirinya”. Kalimat yang berawal dari pertanyaanku ketika berjalan memapahnya mengantarkan menuju rumahnya. Saat itu ia kutemukan sedang duduk bersama karung berisi barang-barang hasil kerjanya hari itu dengan keadaan yang sangat lemas.
Kembali ku benamkan pandanganku ke dalam cermin. Semakin ku yakin. Ya… aku lah Asa kecilnya, Nafisa ayah ibu ku..

Penulis : Gendis Dedari*
*Penikmat Sastra
Lahir dan besar di Muaro, Sumatera Barat, menetap di Bengkulu.

Sumber foto, hartakata.wordpress.com